July 18, 2026

Koperasi Merah Putih: Potensi Cuan dari Besarnya Risiko Kegagalan

Setiap kali pemerintah meluncurkan program berskala besar, selalu ada dua kubu yang muncul. Satu kubu melihatnya sebagai peluang besar, sementara kubu lainnya memandangnya sebagai sumber masalah baru. 

Kantor Koperasi Merah Putih Kelurahan Melai

Hal yang sama terjadi pada Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang digagas Presiden Prabowo. Dengan target membentuk sekitar 80.000 koperasi di seluruh Indonesia, program ini diproyeksikan menjadi mesin penggerak ekonomi desa. Namun, sebelum roda itu benar-benar berputar, sentimen negatif sudah lebih dulu bermunculan.

Saya memahami mengapa banyak orang bersikap skeptis. Pengalaman Indonesia terhadap koperasi memang tidak selalu indah. 

Data Kementerian Koperasi beberapa tahun terakhir menunjukkan masih banyak koperasi yang tidak aktif atau dibubarkan karena tidak mampu menjalankan usahanya. Artinya, membangun koperasi bukan sekadar mendirikan organisasi, melainkan menciptakan sistem bisnis yang benar-benar hidup.

Keraguan itu juga disampaikan sejumlah pakar. Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara, misalnya, mengingatkan bahwa investasi yang sangat besar berpotensi menjadi beban fiskal apabila koperasi gagal menghasilkan arus kas yang memadai. 

Ia juga menilai pembentukan puluhan ribu koperasi dalam waktu singkat memiliki risiko kredit bermasalah, lemahnya tata kelola, hingga tumpang tindih dengan BUMDes dan koperasi yang telah ada.

Pandangan serupa datang dari akademisi Muhammad Akhyar Adnan. Menurutnya, koperasi tidak bisa dibangun hanya melalui instruksi pemerintah. Koperasi hanya akan berhasil apabila tumbuh dari kebutuhan dan partisipasi aktif anggotanya. Modal yang besar tidak akan banyak berarti jika pengurus tidak memiliki kemampuan manajemen, transparansi, dan semangat gotong royong.

Terus terang, saya tidak menganggap kritik-kritik itu sebagai bentuk pesimisme. Justru sebaliknya, kritik tersebut adalah alarm agar pemerintah tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Sebab jika setiap koperasi menerima dukungan investasi miliaran rupiah, maka kegagalan bukan hanya merugikan anggota koperasi, tetapi juga menjadi kerugian negara.

Namun, saya sendiri tidak sepenuhnya sepakat jika program ini langsung divonis akan gagal. Saya melihat masih ada peluang keberhasilan, meski peluang itu tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dibangun melalui perencanaan yang realistis dan pengawasan yang disiplin.

Saya coba berikan simulasi sederhana dari apa yang saya ketehui tentang program ini:

Misalkan satu koperasi memperoleh dukungan aset dan modal senilai Rp3 miliar. Dana tersebut digunakan untuk renovasi bangunan, gudang, kendaraan distribusi, peralatan, dan modal kerja. 

Selanjutnya koperasi menjalankan beberapa unit usaha, seperti toko sembako, distribusi pupuk, pembelian hasil panen petani, jasa logistik, dan simpan pinjam.

Bila seluruh unit usaha mampu menghasilkan omzet sekitar Rp1,5 miliar setiap bulan dengan margin keuntungan bersih 5 persen, maka laba bersih koperasi mencapai sekitar Rp75 juta per bulan, atau Rp900 juta per tahun.

Dari angka itu, kita dapat menghitung Break Even Point (BEP) secara sederhana.

BEP  = Total Investasi ÷ Laba Bersih Tahunan

= Rp 3.000.000.000 ÷ Rp 900.000.000

= sekitar 3,3 tahun

Artinya, apabila target usaha benar-benar tercapai, investasi awal secara teori dapat kembali dalam waktu sekitar tiga tahun empat bulan.

Sementara itu, Return on Investment (ROI) dapat dihitung sebagai berikut:

ROI   = (Laba Tahunan ÷ Nilai Investasi) × 100%

= (Rp900 juta ÷ Rp3 miliar) × 100%

= 30 persen per tahun.

Bagi ukuran koperasi, angka ini sebenarnya cukup menarik. Bahkan lebih tinggi dibanding bunga deposito maupun beberapa instrumen investasi konvensional.

Masalahnya, perhitungan di atas hanya akan menjadi kenyataan apabila koperasi benar-benar menjalankan bisnis secara profesional. Jika omzet hanya mencapai separuh target, maka laba ikut turun. 

Jika biaya operasional membengkak, keuntungan akan semakin tipis. Bahkan jika pengurus tidak memiliki kemampuan mengelola usaha, koperasi bisa merugi sebelum sempat mencapai titik impas.

Di sinilah letak tantangan sebenarnya. Menurut saya, keberhasilan program ini tidak bergantung pada besarnya anggaran, melainkan pada kualitas eksekusinya.

Ada beberapa langkah antisipasi yang menurut saya sangat mempengaruhi:

Pertama, pemerintah harus melakukan seleksi potensi ekonomi setiap desa. Jangan semua desa dipaksa memiliki jenis usaha yang sama. Desa nelayan tentu berbeda dengan desa pertanian atau desa wisata.

Kedua, pengurus koperasi harus dipilih berdasarkan kompetensi, bukan sekadar kedekatan politik atau jabatan di desa. Pengurus yang memahami akuntansi, pemasaran, dan manajemen usaha jauh lebih berharga dibandingkan modal miliaran rupiah.

Ketiga, seluruh transaksi koperasi sebaiknya dilakukan secara digital agar mudah diaudit. Transparansi merupakan benteng pertama untuk mencegah penyalahgunaan dana.

Keempat, koperasi jangan bersaing dengan UMKM yang sudah ada. Sebaliknya, koperasi harus menjadi agregator yang membantu UMKM memperoleh bahan baku lebih murah, akses pembiayaan, dan jaringan pemasaran yang lebih luas.

Kelima, evaluasi harus dilakukan secara berkala. Koperasi yang sehat perlu diberi insentif untuk berkembang, sedangkan koperasi yang gagal harus segera dibina atau direstrukturisasi sebelum kerugiannya semakin besar.

Saya percaya, setiap program besar memang selalu mengandung risiko. Namun, risiko bukan alasan untuk berhenti mencoba. Risiko justru menjadi alasan untuk merancang sistem yang lebih baik.

Pada akhirnya, saya melihat Koperasi Merah Putih bukan sekadar proyek pembangunan gedung atau pembentukan badan hukum baru. Program ini adalah investasi jangka panjang terhadap ekonomi desa. Memang benar, peluang kegagalannya tidak kecil. 

Kritik para pakar juga patut menjadi perhatian serius pemerintah. Tetapi jika seluruh langkah antisipasi dijalankan secara konsisten—mulai dari studi kelayakan, pemilihan pengurus yang profesional, digitalisasi tata kelola, hingga pengawasan yang ketat—maka koperasi memiliki peluang untuk mencapai titik impas, menghasilkan keuntungan, dan benar-benar menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Optimisme tentu harus dibarengi kewaspadaan. Dengan tata kelola yang baik, investasi negara tidak hanya berpeluang kembali dalam bentuk keuntungan finansial, tetapi juga menghadirkan manfaat yang jauh lebih besar: lapangan kerja baru, pendapatan masyarakat yang meningkat, serta desa-desa yang semakin mandiri secara ekonomi. 

Itulah 'cuan' sesungguhnya yang layak diperjuangkan dari sebuah program sebesar Koperasi Merah Putih.

July 17, 2026

Waspada Air Minum yang Dikonsumsi

Tips Memilih Air Minum Sehat untuk Keluarga

Saat memilih makanan, kita biasanya memperhatikan kualitas dan kandungan gizinya. Namun, bagaimana dengan air minum? Padahal, air adalah zat yang paling sering masuk ke dalam tubuh setiap hari dan berperan penting menjaga fungsi organ, metabolisme, serta daya tahan tubuh. Karena itu, memilih air minum yang sehat seharusnya menjadi perhatian setiap keluarga.

Banyak orang mengira air yang bening pasti aman diminum. Faktanya, air yang terlihat jernih masih bisa mengandung bakteri, virus, logam berat, atau zat kimia yang tidak tampak oleh mata. Oleh sebab itu, jangan memilih air minum hanya karena harganya murah atau kemasannya menarik. Yang lebih penting adalah memastikan air diproses secara higienis dan memenuhi standar keamanan.

Ada beberapa hal sederhana yang dapat menjadi perhatian sebelum memilih air minum:

  1. Pastikan memiliki izin edar resmi. Produk yang telah memenuhi persyaratan akan mencantumkan informasi produsen dan izin edar pada kemasannya.
  2. Periksa kondisi kemasan. Hindari membeli air dengan segel rusak, kemasan bocor, penyok, atau tutup yang longgar karena berisiko terkontaminasi.
  3. Pilih air yang diproduksi secara higienis. Proses penyaringan, sterilisasi, dan pengemasan yang baik membantu menjaga kualitas air hingga dikonsumsi.
  4. Perhatikan tanggal produksi dan kedaluwarsa. Langkah sederhana ini penting untuk memastikan produk masih layak diminum.
  5. Jangan hanya tergiur harga murah. Kualitas dan keamanan air jauh lebih penting dibanding selisih harga yang relatif kecil.

Mengonsumsi air minum yang berkualitas membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh, mendukung fungsi ginjal, melancarkan metabolisme, serta membantu menjaga kebugaran sehari-hari. Sebaliknya, air yang tidak higienis dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak dan lansia yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan.

Saat ini pilihan air minum sangat beragam. Sebagai konsumen, kita perlu lebih teliti sebelum membeli. Biasakan membaca informasi pada kemasan, memilih produk dari produsen yang terpercaya, dan memastikan kualitas pengolahannya. Kebiasaan sederhana ini dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan keluarga.

Air minum bukan sekadar pelepas dahaga, tetapi bagian penting dari gaya hidup sehat. Dengan memilih air yang diproduksi secara higienis, memiliki izin resmi, dan dikemas dengan baik, kita telah mengambil langkah sederhana untuk melindungi kesehatan keluarga. Karena pada akhirnya, keluarga yang sehat dimulai dari kebiasaan kecil, termasuk lebih bijak memilih air minum setiap hari.

April 09, 2020

Berhenti Cemas Berlebih dan Mari Tetap Menjaga Diri


Ini tulisan pertama saya terkait pandemi Covid-19 yang disebabkan virus Corona. Yah, penyakit yang awalnya hanya endemi ini dengan cepat menjelma menjadi wabah hingga epidemi. Bahkan hanya dalam waktu lebih kurang satu bulan, ia pun sudah ditetapkan sebagai pandemi di seluruh dunia.

Wajar saja bila pandemi Covid-19 membawa berbagai dampak buruk, selain efek terburuknya adalah kematian bagi pasien yang terpapar virus Corona. Beberapa dampaknya sangat jelas terlihat di kehidupan manusia, mulai dari sisi ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan.

Sehingga, dari sini masyarakat pun menjadi cemas. Alih-alih selain berusaha melindungi diri, kita justru terintimidasi oleh perasaan cemas yang berlebih. Padahal dengan menerapkan imbauan menjaga kebersihan, beraktivitas di dalam rumah, dan menjaga jarak dengan orang-orang itu sudah cukup.

Di sini poin pentingnya, bahwa ternyata melakukan upaya perlindungan diri itu tidak akan cukup, bila kita justru melemahkan diri kita dengan perasaan cemas dan khawatir yang berlebih.

Kenapa kita tidak boleh cemas dan khawatir berlebih?

Melansir hasil studi Harvard Medical School tentang Anxiety and Physical Illness dari laman Halodoc, bahwa orang-orang dengan tingkat kecemasan tinggi berisiko melemahkan kondisi fisik dan psikis. Jadi hal buruk pertama yang diakibatkan oleh kecemasan adalah penurunan kekebalan tubuh dan besarnya peluang berbagai penyakit menyerang.

Perasaan cemas yang kita tunjukkan juga ternyata dapat menular ke orang-orang di sekitar kita. Memang kondisi emosional ini tidak menular seperti halnya flu, tetapi dapat mempengaruhi suasana hati orang lain. Alasannya, karena kita adalah manusia yang saling berinteraksi.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Judy Ho, psikolog klinis dan forensik Kalifornia Selatan, dari laman Health, bahwa emosional seseorang bisa menular karena manusia adalah makhluk sosial yang merespon lingkungan.

Jadi saat lingkungan kita mulai dilanda kecemasan berlebih, muncul kondisi prilaku baru di mana setiap orang akan mulai mementingkan diri sendiri. Berusaha menyelamatkan diri dan menutup interaksi secara wajar dengan orang-orang. Bahayanya, karena sikap seperti ini dapat merugikan orang lain.

Ini sudah terjadi di sekitar kita. Misalnya, ketakutan yang merebak membuat orang-orang melakukan panic buying, atau berbelanja barang-barang tertentu secara berlebihan. Belum lagi kondisi ini dimanfaatkan oleh sejumlah kalangan untuk meraup keuntungan dengan menimbun dan menaikkan harga barang. Hebatnya karena perilaku ini berefek domino pada banyak orang. Itu semua akibat dari kecemasan yang berlebih.

Di sisi lain, justru ada sejumlah orang yang walau tetap diselimuti kecemasan, mereka jadi lupa dengan upaya untuk menjaga diri. Mereka tampaknya mengalihkan kecemasan dengan tetap berakitivitas secara wajar di luar rumah. Misalnya, mengantri mengambil sembako dan bantuan, atau berolahraga gembira secara beramai-ramai. Padahal penyebaran virus sangat rentan terjadi di kerumunan seperti itu.

Cerdas dalam menanggapi dampak pandemi Covid-19 itu memang perlu kita lakukan bersama. Kecemasan yang timbul itu wajar, asal tetap dalam batas yang semestinya. Mungkin kita juga perlu mengurangi arus informasi yang kita terima setiap hari, karena sumber kecemasan yang kita rasakan adalah banyaknya pemberitaan yang belum jelas beredar di sekitar kita.

Kita belum tahu, sampai kapan pandemi Covid-19 ini berakhir. Ada banyak prediksi yang kita saksikan di berbagai media tentang ujung dari penyebaran virus Corona. Namun bila ini berlangsung lebih lama dari semua prediksi itu, akankah kita terus dihantui oleh perasaan cemas yang berlebih?

August 06, 2019

Memudarkan Area Gelap Di Selangkangan

Biasanya orang-orang jarang memperhatikan bagian area selangkangan mereka. Namun mereka baru cukup peduli ketika mereka menyadari kalau bagian tubuh privasi ini berkaitan dengan keharmonisan hubungan pasangan dalam rumah tangga.


Baik laki-laki apalagi perempuan akan cukup malu ketika merasa area selangkangan mereka tampak gelap bahkan menghitam. Alih-alih merasa bisa memberikan kepuasan dalam hubungan intim dengan pasangan, perasaan risih bisa saja muncul karena pasangan bisa saja mengeluh atau menegur kondisi tersebut.

Karena Aku Anak Seorang Petani

Terlahir dari seorang ayah yang pernah menjadi seorang petani semasa kecilnya, ternyata menjadi kebanggan tersendiri. Dari ayah, aku belajar sedikit tentang ilmu bertani. Bertani bukan sekadar menanam padi di sawah, tapi segala macam tanaman yang menghasilkan sesuatu untuk dimakan. 


Dari ilmu bertani ayah, aku juga sempat belajar menanam tanaman hias, yang walaupun tanamannya biasa saja, tapi teman dan tetangga cukup kagum dengan kemampuanku merawat tanaman. Bahkan seorang tetangga sempat mengakui kalau aku ini bertangan dingin. Tangan dingin adalah istilah untuk menggambarkan seorang yang mampu menanam dan merawat tumbuhan jenis apa saja.