August 09, 2026

Daya Tarik Manga di Tengah Tren Baca Digital

Buku manga One Piece karya Eiichiro Oda

Sebagai pembaca manga cetak yang mungkin dianggap 'ketinggalan zaman', saya aktif membeli dan mengoleksi buku manga One Piece dari volume awal hingga terbaru. 

Di saat tren membaca manga masyarakat saat ini sudah bergeser ke dalam aktivitas menggulir layar ponsel, mengoleksi manga cetak punya kepuasam tersendiri. Saya juga bahkan pernah mengoleksi manga Dragon Ball dan Detective Conan, meski tidak selengkap One Piece.

Artikel tentang menurunnya sirkulasi Weekly Shonen Jump seperti yang dibahas Kompas edisi 8 Agustus 2026 terasa menarik bagi saya. Penurunan tersebut memang tidak terlepas dari perubahan perilaku pembaca. 

Menurut saya persoalan mendasarnya adalah apakah manga generasi sekarang masih mampu menciptakan ikatan emosional dengan para pembacanya sebesar manga dari generasi sebelumnya?

Weekly Shonen Jump pernah menjadi rumah bagi Dragon Ball, Yu Yu Hakusho, Slam Dunk, One Piece, Naruto, dan Bleach. Banyak di antaranya bukan sekadar populer, tetapi menjadi bagian dari budaya pop selama bertahun-tahun.

Kini Jump masih memiliki sejumlah judul baru yang menarik. Tapi saya justru merasa kurang pada kedalaman cerita, pembangunan dunia, perkembangan karakter, dan menciptakan rasa penasaran dalam jangka panjang. 

Tidak sedikit manga baru yang cepat viral, tetapi belum tentu mampu bertahan sebagai karya yang akan dikenang puluhan tahun. Atau bahkan akan terus diceritakan berulang-ulang. Di Indonesia, perubahan itu juga terasa. 

Penerbit seperti Elex Media Komputindo terus mempertahankan penerbitan manga cetak sekaligus mengikuti transformasi digital. One Piece pun masih diterbitkan dalam format fisik. Namun keberadaan versi cetak tidak otomatis menjamin pembaca akan terus datang.

Saya sendiri tetap membaca manga digital. Praktis, cepat, dan mudah. Tetapi untuk One Piece, saya tetap memilih membeli versi cetaknya. Ada kepuasan berbeda ketika sebuah cerita yang kita ikuti bertahun-tahun akhirnya memenuhi rak buku di rumah.

Karena itu, saya tidak sepenuhnya percaya bahwa digitalisasi adalah penyebab utama kemunduran manga cetak. Pembaca masih mau membeli buku jika ceritanya layak dimiliki.

Masalah terbesar Weekly Shonen Jump setelah era One Piece mungkin bukan kehilangan pembaca, melainkan kehilangan cerita yang membuat pembaca merasa ingin membeli dan mengoleksi versi cetaknya. 

Jika generasi baru tidak mampu menghasilkan karya dengan daya tahan emosional dan kualitas cerita seperti generasi sebelumnya, maka penurunan sirkulasi bukan lagi sekadar akibat perubahan teknologi.

Ini juga akan menjadi penanda bahwa mesin pencetak legenda sedang kehilangan bahan bakarnya. Sementara kita sebagai pembaca akan kehilangan cerita yang bisa menyatukan diskusi baik di ruang santai maupun di dunia maya. (Kang Mamad) 

August 06, 2026

Dakwah Tanpa Memutus Ukhuwah

Buya Yahya di acara Silaturahmi Buya Yahya

Pada sesi diskusi tanya jawab di acara Silaturahmi Buya Yahya, saya sempat menitip pertanyaan ke Buya, yang inti pertanyaannya seperti ini:

"Ketika kita merasa mengetahui sebuah kebenaran dan ingin menyampaikannya kepada orang lain, bagaimana jika ajakan itu justru membuat teman menjauh? Apakah saya harus lebih mengutamakan ajakan (dakwah) atau menjaga silaturahmi?"

Pertanyaan itu berangkat dari dilema sederhana yang saya sering temui dewasa kini. Saya teringat bagaimana media sosial membuat informasi keagamaan begitu mudah berpindah. 

Kadang, sedikit pengetahuan yang saya miliki membuat saya bersemangat mengajak orang lain. Namun, saya merasa cara penyampaian saya kadang tidak membuat orang nyaman. Penolakan pun muncul, bahkan hubungan pun ikut renggang.

Jawaban Buya Yahya justru mengajak saya melihat persoalan itu dari sisi yang berbeda. Menurutnya, dakwah tidak boleh dilepaskan dari adab, keramahan, keindahan, dan ukhuwah. 

Misal, jika seseorang sudah memiliki guru, tidak perlu kita memisahkannya dari gurunya. Kita tidak datang untuk mengambil atau mengganti hubungan yang sudah ada, tetapi menghadirkan kebaikan dengan cara yang indah.

Di acara yang digelar di Vila Nirwana Kota Baubau, Selasa (04/08/2026) itu, saya mendapat pelajaran bahwa terkadang masalahnya bukan pada ajalah dakwah, tapi pada cara dakwahnya.

Buya Yahya memberi gambaran sederhana yaitu jangan sampai kita belum pernah mengajak seseorang berbincang, minum teh bersama, atau membangun kedekatan, tetapi tiba-tiba datang membawa nasihat. 

Wajar jika orang bertanya, “Siapa kamu?”

Dari situ saya memahami bahwa ukhuwah bukan penghalang dakwah. Justru ukhuwah dapat menjadi jalan agar pesan kebaikan lebih mudah diterima. Sederhananya kalau dakwah itu tidak boleh sampai memutus ukhuwah. 

Jika setelah disampaikan dengan ilmu, akhlak, hikmah, dan cara yang baik masih ada orang yang tidak menerima bahkan memusuhi, Buya Yahya mengingatkan agar kita tidak membalas dengan emosi. 

Pesan berharga yang saya bawa pulang dari pertemuan itu salah satunya bahwa dakwah tidak harus membuat kita kehilangan sahabat. Tetaplah menghadirkan keindahan dan mendoakan mereka.

Sebab menyampaikan kebenaran bukan harus memenangkan perdebatan. Dakwah justru dimulai dengan mendengarkan, berteman, menjaga silaturahmi, lalu menemukan waktu yang tepat untuk berbagi kebaikan.

Di momen rangkaian Safari Dakwah Buya Yahya ke Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara, itu saya menemukan permata indah. Semangat dakwah yang saya pegang teguh selama ini haruslah berprinsip untuk tidak kehilangan kelembutan hati kepada siapapun.

August 04, 2026

Di Baubau, Buya Yahya Titip Nasihat: Dakwah dari Hati

Buya Yahya bersama tamu acara silaturahmi

Saya berkesempatan mengikuti Silaturahmi Buya Yahya di Vila Nirwana, Kota Baubau, Selasa, 4 Agustus 2026. Pertemuan sederhana berlatar pantai nirwana nan eksotis itu mengangkat tema 'Menjaga Ukhuwah untuk Keberlanjutan Dakwah'. 

Di pertemuan itu, Buya Yahya memberikan nasihat dan sesi diskusi ke sejumlah pimpinan pondok pesantren di Kota Baubau serta para donatur dan pejuang yang mendukung rangkaian Safari Dakwahnya di Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Spirit Pemuda Hijrah bersama Yayasan Hibrul Ummah. Bagi saya, pertemuan tersebut terasa lebih dari sekadar majelis ilmu. 

Terasa suasana silaturahmi dan percakapan dari hati ke hati tentang sebuah perjuangan dakwah dapat terus berjalan ketika para pejuangnya kembali kepada kesibukan masing-masing.

Buya Yahya membuka pesan tentang dakwah dari sesuatu yang sederhana yaitu 'pertemuan hati'. Ia mengingatkan bagaimana Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar. Dakwah yang disampaikan harus berjalan dari hati. 

Menurutnya, pertemuan hati merupakan asas perjuangan. Ketika sesama pejuang saling mencintai karena Allah, akan tumbuh sikap saling menolong, memahami, dan menguatkan.

Saya menangkap pesan itu sebagai pengingat bahwa keberlanjutan dakwah tidak hanya ditentukan oleh besarnya program, tetapi juga oleh kualitas hubungan orang-orang yang menjalankannya.

Buya Yahya juga mengingatkan agar sesama pejuang tidak membiasakan diri membicarakan kekurangan orang lain. Jika ada kesalahan, nasihatilah dengan cara yang baik dan tidak merendahkan.

Hal lain yang menurut saya penting adalah pesannya bahwa dakwah bukan hanya tugas ustaz. Setiap orang dapat mengambil bagian sesuai kemampuannya. 

Orang berilmu berdakwah dengan ilmunya, orang kaya dengan hartanya, orang lain dengan tenaga dan pikirannya. Bahkan mereka yang merasa tidak memiliki apa-apa masih dapat berkontribusi melalui doa.

Pesan itu terasa relevan dengan perjalanan Spirit Pemuda Hijrah di Baubau. Komunitas ini menjadi salah satu ruang anak muda untuk mendekatkan dakwah dengan masyarakat dan lingkungan lokal.

Kehadiran Buya Yahya di Baubau akhirnya menjadi pertemuan antara pengalaman panjang perjuangan dakwah dengan semangat generasi muda di daerah.

Saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana: dakwah mungkin membutuhkan ilmu, tenaga, harta, dan program. Namun sebelum semuanya itu, dakwah membutuhkan hati yang saling mencintai karena Allah.

Sebab ketika hati tetap terikat dalam ukhuwah, berpisah tempat tidak berarti berpisah perjuangan. Selalu ada doa yang membuat kita tetap terhubung. (Kang Mamad)

July 27, 2026

Ibadah Haji 2026 dan Kenangan Baik untuk Dijaga

H. Lahupa (kanan), rekan jamaah haji sekamar di madinah

Ada satu hal yang baru saya pahami setelah menunaikan ibadah haji tahun 2026. Perjalanan ke Tanah Suci ternyata tidak benar-benar berakhir ketika pesawat mendarat kembali di Indonesia. Justru, perjalanan berikutnya dimulai ketika para jamaah kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan menyandang gelar haji dan hajja. Pertanyaan besarnya bukan lagi bagaimana menjalankan rukun haji, melainkan bagaimana menjaga kemabrurannya.

Pertanyaan itu terlintas di benak saya saat menghadiri Temu Silaturahmi Alumni Jamaah Haji Baubau 2026 di Vila Kamelanta, Ahad (26/07/26). Perjalanan dari Kota Baubau ke lokasi yang menempuh jarak 30 km menghadirkan suasana berbeda. Jalanan lengang, hamparan pepohonan hijau, dan pemandangan laut yang membentang di sisi vila membuat tempat itu terasa tepat untuk berkumpul. Angin berembus pelan serta rindang pepohonan menjadi peneduh bagi puluhan jamaah yang datang bersama pasangan dan keluarganya.

Vila Kamelanta sendiri berdiri sederhana di tepi pantai. Bangunan kayunya menghadirkan kesan hangat, jauh dari suasana formal tempat untuk bertemu. Tidak heran jika sejak awal acara, percakapan lebih banyak diwarnai tawa, saling sapa, dan cerita-cerita ringan tentang kehidupan setelah kembali dari Tanah Suci. Sesekali terdengar candaan mengenai kebiasaan selama di Makkah atau Madinah yang masih terbawa hingga di rumah. Momen seperti ini rasanya sulit ditemukan dalam pertemuan resmi.

Pengalaman badah haji yang saya lakukan di tahun 2026 ini menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakan. Setelah menyelesaikan rangkaian puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, para jamaah kembali ke hotel masing-masing dengan perasaan lega sekaligus haru. Ibadah selanjutnya dilaksanakan di Masjid Nabawi Kota Madinah sebelum akhirnya pulang ke Indonesia. 

Selama berminggu-minggu hidup bersama dalam satu rombongan, para jamaah terbiasa saling bantu. Ada yang mengingatkan jadwal makan, menemani saat berobat, hingga sekadar menunggu teman yang berjalan lebih lambat menuju masjid. Hubungan seperti itu ternyata tidak serta-merta hilang ketika semua telah kembali ke rumah masing-masing.

Karena itu, kegiatan silaturahmi seperti ini terasa memiliki makna yang berbeda. Agendanya memang sederhana. Rangkaian agenda di pertemuan itu mungkin hanya santap siang dan hiburan karaoke atau bermain domino bersama. Namun, inti sebenarnya bukan pada susunan acaranya, yang paling berharga adalah kesempatan untuk kembali duduk bersama mereka yang pernah berjuang menuntaskan rukun Islam kelima dalam perjalanan spiritual yang sama.

Dalam sambutannya, Ketua Majelis Alumni Jamaah Haji Baubau 2026, H. Muslimin, mengingatkan bahwa kebersamaan yang telah dibangun di Makkah dan Madinah tidak boleh berhenti begitu saja. Pertemuan-pertemuan berikutnya direncanakan berbentuk pengajian rutin yang sesekali diselingi kegiatan di alam terbuka. Gagasan itu terasa sederhana, tetapi justru sangat mungkin dijalankan karena berangkat dari kebutuhan yang sama, yakni menjaga tali persaudaraan.

Pernyataan Ketua Majelis kami itu mengingatkan saya bahwa selama di Tanah Suci, memang hampir tidak ada jamaah yang benar-benar berjalan sendirian. Selalu ada tangan yang membantu, bahu tempat bersandar, atau teman yang mengingatkan ketika kita mulai lelah. Lebih kurang 40 hari menjalani ibadah haji, tentu akan menghadirkan momen membekas dengan begitu banyak kenangan baik untuk dijaga. 

Menjelang sore, acara pun ditutup dengan foto bersama berlatar laut yang tenang. Saya memandang wajah-wajah yang pernah sama-sama mengenakan kain ihram beberapa waktu lalu. Kini pakaian mereka telah berbeda, begitu pula rutinitas hidup masing-masing. Namun, ada satu hal yang tetap sama, yaitu harapan agar perjalanan menuju surga tidak ditempuh sendirian. 

Sebab, barangkali benar seperti yang disampaikan dalam pertemuan itu, sahabat terbaik bukan hanya mereka yang menemani kita selama di dunia, melainkan juga mereka yang terus mengajak kita agar selalu mendekat kepada Allah hingga akhir perjalanan. (Kang Mamad)

Kepala Kemenhaj Baubau: Ada Syafaat dari Teman yang Saleh

Dr. H. Halking, Kepala Kantor Kemenhaj Kota Baubau

Di tengah suasana akrab Temu Alumni Jamaah Haji Baubau 2026 di Vila Kamelanta, Ahad (26/7/2026), Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Baubau, Dr. H. Halking, S.Ag., S.H., M.Fil.I., menyampaikan sebuah pesan yang mengundang renungan. Menurutnya, salah satu cara menjaga kemabruran haji adalah dengan menjalin silaturahmi bersama orang-orang saleh. Ia mengingatkan bahwa selain dari Rasulullah SAW dan Al-Qur'an, ada pula syafaat dari teman-teman yang saleh.

Pernyataan tersebut memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. Al-Qur'an menegaskan bahwa seluruh syafaat pada hakikatnya adalah milik Allah dan tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat tanpa izin-Nya (QS. Az-Zumar: 44; QS. Al-Baqarah: 255). Dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa setelah orang-orang beriman memasuki surga, mereka akan memohon kepada Allah agar menyelamatkan saudara-saudara mereka yang masih berada di neraka karena memiliki keimanan. Permohonan itu diterima oleh Allah sebagai bentuk syafaat yang diizinkan-Nya. 

Riwayat lain juga menjelaskan bahwa seorang mukmin dapat memberikan syafaat kepada kerabat atau sahabatnya sesuai kadar izin yang Allah berikan. Namun demikian, para ulama mengingatkan agar konsep syafaat tidak dipahami secara keliru. Syafaat bukanlah jaminan keselamatan bagi siapa pun yang sengaja meremehkan amal saleh atau bergantung pada kedekatan dengan orang-orang saleh.

Kelompok-kelompok teologi seperti Khawarij pada masa awal Islam bahkan menolak adanya syafaat bagi pelaku dosa besar, sementara mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah menerima syafaat berdasarkan banyak dalil Al-Qur'an dan hadis sahih, dengan syarat seluruhnya terjadi atas kehendak dan izin Allah SWT.

Dalam konteks itulah, silaturahmi memiliki makna lebih dalam daripada sekadar menjaga hubungan sosial. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi" (HR. Bukhari dan Muslim). Silaturahmi bukan hanya menghadirkan berkah hidup di dunia, tetapi juga sarana saling menguatkan iman, mengingatkan kebaikan, serta membangun persahabatan yang menjadi sebab turunnya rahmat Allah.

Bagi para alumni haji, menjaga kebersamaan bukan sekadar mengenang perjalanan di Tanah Suci, melainkan ikhtiar untuk mempertahankan kemabruran hingga akhir hayat dengan terus berada di lingkungan yang mengajak kepada ketaatan. Sehingga tidak hanya kebaikan di dunia yang bisa didapatkan tapi juga syafaat penolong di akhirat kelak. (Kang Mamad)