![]() |
| Buku manga One Piece karya Eiichiro Oda |
Sebagai pembaca manga cetak yang mungkin dianggap 'ketinggalan zaman', saya aktif membeli dan mengoleksi buku manga One Piece dari volume awal hingga terbaru.
Di saat tren membaca manga masyarakat saat ini sudah bergeser ke dalam aktivitas menggulir layar ponsel, mengoleksi manga cetak punya kepuasam tersendiri. Saya juga bahkan pernah mengoleksi manga Dragon Ball dan Detective Conan, meski tidak selengkap One Piece.
Artikel tentang menurunnya sirkulasi Weekly Shonen Jump seperti yang dibahas Kompas edisi 8 Agustus 2026 terasa menarik bagi saya. Penurunan tersebut memang tidak terlepas dari perubahan perilaku pembaca.
Menurut saya persoalan mendasarnya adalah apakah manga generasi sekarang masih mampu menciptakan ikatan emosional dengan para pembacanya sebesar manga dari generasi sebelumnya?
Weekly Shonen Jump pernah menjadi rumah bagi Dragon Ball, Yu Yu Hakusho, Slam Dunk, One Piece, Naruto, dan Bleach. Banyak di antaranya bukan sekadar populer, tetapi menjadi bagian dari budaya pop selama bertahun-tahun.
Kini Jump masih memiliki sejumlah judul baru yang menarik. Tapi saya justru merasa kurang pada kedalaman cerita, pembangunan dunia, perkembangan karakter, dan menciptakan rasa penasaran dalam jangka panjang.
Tidak sedikit manga baru yang cepat viral, tetapi belum tentu mampu bertahan sebagai karya yang akan dikenang puluhan tahun. Atau bahkan akan terus diceritakan berulang-ulang. Di Indonesia, perubahan itu juga terasa.
Penerbit seperti Elex Media Komputindo terus mempertahankan penerbitan manga cetak sekaligus mengikuti transformasi digital. One Piece pun masih diterbitkan dalam format fisik. Namun keberadaan versi cetak tidak otomatis menjamin pembaca akan terus datang.
Saya sendiri tetap membaca manga digital. Praktis, cepat, dan mudah. Tetapi untuk One Piece, saya tetap memilih membeli versi cetaknya. Ada kepuasan berbeda ketika sebuah cerita yang kita ikuti bertahun-tahun akhirnya memenuhi rak buku di rumah.
Karena itu, saya tidak sepenuhnya percaya bahwa digitalisasi adalah penyebab utama kemunduran manga cetak. Pembaca masih mau membeli buku jika ceritanya layak dimiliki.
Masalah terbesar Weekly Shonen Jump setelah era One Piece mungkin bukan kehilangan pembaca, melainkan kehilangan cerita yang membuat pembaca merasa ingin membeli dan mengoleksi versi cetaknya.
Jika generasi baru tidak mampu menghasilkan karya dengan daya tahan emosional dan kualitas cerita seperti generasi sebelumnya, maka penurunan sirkulasi bukan lagi sekadar akibat perubahan teknologi.
Ini juga akan menjadi penanda bahwa mesin pencetak legenda sedang kehilangan bahan bakarnya. Sementara kita sebagai pembaca akan kehilangan cerita yang bisa menyatukan diskusi baik di ruang santai maupun di dunia maya. (Kang Mamad)




