![]() |
| Buya Yahya di acara Silaturahmi Buya Yahya |
Pada sesi diskusi tanya jawab di acara Silaturahmi Buya Yahya, saya sempat menitip pertanyaan ke Buya, yang inti pertanyaannya seperti ini:"Ketika kita merasa mengetahui sebuah kebenaran dan ingin menyampaikannya kepada orang lain, bagaimana jika ajakan itu justru membuat teman menjauh? Apakah saya harus lebih mengutamakan ajakan (dakwah) atau menjaga silaturahmi?"
Pertanyaan itu berangkat dari dilema sederhana yang saya sering temui dewasa kini. Saya teringat bagaimana media sosial membuat informasi keagamaan begitu mudah berpindah.
Kadang, sedikit pengetahuan yang saya miliki membuat saya bersemangat mengajak orang lain. Namun, saya merasa cara penyampaian saya kadang tidak membuat orang nyaman. Penolakan pun muncul, bahkan hubungan pun ikut renggang.
Jawaban Buya Yahya justru mengajak saya melihat persoalan itu dari sisi yang berbeda. Menurutnya, dakwah tidak boleh dilepaskan dari adab, keramahan, keindahan, dan ukhuwah.
Misal, jika seseorang sudah memiliki guru, tidak perlu kita memisahkannya dari gurunya. Kita tidak datang untuk mengambil atau mengganti hubungan yang sudah ada, tetapi menghadirkan kebaikan dengan cara yang indah.
Di acara yang digelar di Vila Nirwana Kota Baubau, Selasa (04/08/2026) itu, saya mendapat pelajaran bahwa terkadang masalahnya bukan pada ajalah dakwah, tapi pada cara dakwahnya.
Buya Yahya memberi gambaran sederhana yaitu jangan sampai kita belum pernah mengajak seseorang berbincang, minum teh bersama, atau membangun kedekatan, tetapi tiba-tiba datang membawa nasihat.
Wajar jika orang bertanya, “Siapa kamu?”
Dari situ saya memahami bahwa ukhuwah bukan penghalang dakwah. Justru ukhuwah dapat menjadi jalan agar pesan kebaikan lebih mudah diterima. Sederhananya kalau dakwah itu tidak boleh sampai memutus ukhuwah.
Jika setelah disampaikan dengan ilmu, akhlak, hikmah, dan cara yang baik masih ada orang yang tidak menerima bahkan memusuhi, Buya Yahya mengingatkan agar kita tidak membalas dengan emosi.
Pesan berharga yang saya bawa pulang dari pertemuan itu salah satunya bahwa dakwah tidak harus membuat kita kehilangan sahabat. Tetaplah menghadirkan keindahan dan mendoakan mereka.
Sebab menyampaikan kebenaran bukan harus memenangkan perdebatan. Dakwah justru dimulai dengan mendengarkan, berteman, menjaga silaturahmi, lalu menemukan waktu yang tepat untuk berbagi kebaikan.
Di momen rangkaian Safari Dakwah Buya Yahya ke Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara, itu saya menemukan permata indah. Semangat dakwah yang saya pegang teguh selama ini haruslah berprinsip untuk tidak kehilangan kelembutan hati kepada siapapun.

No comments:
Post a Comment