![]() |
| Buya Yahya bersama tamu acara silaturahmi |
Saya berkesempatan mengikuti Silaturahmi Buya Yahya di Vila Nirwana, Kota Baubau, Selasa, 4 Agustus 2026. Pertemuan sederhana berlatar pantai nirwana nan eksotis itu mengangkat tema 'Menjaga Ukhuwah untuk Keberlanjutan Dakwah'.
Di pertemuan itu, Buya Yahya memberikan nasihat dan sesi diskusi ke sejumlah pimpinan pondok pesantren di Kota Baubau serta para donatur dan pejuang yang mendukung rangkaian Safari Dakwahnya di Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Spirit Pemuda Hijrah bersama Yayasan Hibrul Ummah. Bagi saya, pertemuan tersebut terasa lebih dari sekadar majelis ilmu.
Terasa suasana silaturahmi dan percakapan dari hati ke hati tentang sebuah perjuangan dakwah dapat terus berjalan ketika para pejuangnya kembali kepada kesibukan masing-masing.
Buya Yahya membuka pesan tentang dakwah dari sesuatu yang sederhana yaitu 'pertemuan hati'. Ia mengingatkan bagaimana Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar. Dakwah yang disampaikan harus berjalan dari hati.
Menurutnya, pertemuan hati merupakan asas perjuangan. Ketika sesama pejuang saling mencintai karena Allah, akan tumbuh sikap saling menolong, memahami, dan menguatkan.
Saya menangkap pesan itu sebagai pengingat bahwa keberlanjutan dakwah tidak hanya ditentukan oleh besarnya program, tetapi juga oleh kualitas hubungan orang-orang yang menjalankannya.
Buya Yahya juga mengingatkan agar sesama pejuang tidak membiasakan diri membicarakan kekurangan orang lain. Jika ada kesalahan, nasihatilah dengan cara yang baik dan tidak merendahkan.
Hal lain yang menurut saya penting adalah pesannya bahwa dakwah bukan hanya tugas ustaz. Setiap orang dapat mengambil bagian sesuai kemampuannya.
Orang berilmu berdakwah dengan ilmunya, orang kaya dengan hartanya, orang lain dengan tenaga dan pikirannya. Bahkan mereka yang merasa tidak memiliki apa-apa masih dapat berkontribusi melalui doa.
Pesan itu terasa relevan dengan perjalanan Spirit Pemuda Hijrah di Baubau. Komunitas ini menjadi salah satu ruang anak muda untuk mendekatkan dakwah dengan masyarakat dan lingkungan lokal.
Kehadiran Buya Yahya di Baubau akhirnya menjadi pertemuan antara pengalaman panjang perjuangan dakwah dengan semangat generasi muda di daerah.
Saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana: dakwah mungkin membutuhkan ilmu, tenaga, harta, dan program. Namun sebelum semuanya itu, dakwah membutuhkan hati yang saling mencintai karena Allah.
Sebab ketika hati tetap terikat dalam ukhuwah, berpisah tempat tidak berarti berpisah perjuangan. Selalu ada doa yang membuat kita tetap terhubung. (Kang Mamad)

No comments:
Post a Comment