April 09, 2020

Berhenti Cemas Berlebih dan Mari Tetap Menjaga Diri


Ini tulisan pertama saya terkait pandemi Covid-19 yang disebabkan virus Corona. Yah, penyakit yang awalnya hanya endemi ini dengan cepat menjelma menjadi wabah hingga epidemi. Bahkan hanya dalam waktu lebih kurang satu bulan, ia pun sudah ditetapkan sebagai pandemi di seluruh dunia.

Wajar saja bila pandemi Covid-19 membawa berbagai dampak buruk, selain efek terburuknya adalah kematian bagi pasien yang terpapar virus Corona. Beberapa dampaknya sangat jelas terlihat di kehidupan manusia, mulai dari sisi ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan.

Sehingga, dari sini masyarakat pun menjadi cemas. Alih-alih selain berusaha melindungi diri, kita justru terintimidasi oleh perasaan cemas yang berlebih. Padahal dengan menerapkan imbauan menjaga kebersihan, beraktivitas di dalam rumah, dan menjaga jarak dengan orang-orang itu sudah cukup.

Di sini poin pentingnya, bahwa ternyata melakukan upaya perlindungan diri itu tidak akan cukup, bila kita justru melemahkan diri kita dengan perasaan cemas dan khawatir yang berlebih.

Kenapa kita tidak boleh cemas dan khawatir berlebih?

Melansir hasil studi Harvard Medical School tentang Anxiety and Physical Illness dari laman Halodoc, bahwa orang-orang dengan tingkat kecemasan tinggi berisiko melemahkan kondisi fisik dan psikis. Jadi hal buruk pertama yang diakibatkan oleh kecemasan adalah penurunan kekebalan tubuh dan besarnya peluang berbagai penyakit menyerang.

Perasaan cemas yang kita tunjukkan juga ternyata dapat menular ke orang-orang di sekitar kita. Memang kondisi emosional ini tidak menular seperti halnya flu, tetapi dapat mempengaruhi suasana hati orang lain. Alasannya, karena kita adalah manusia yang saling berinteraksi.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Judy Ho, psikolog klinis dan forensik Kalifornia Selatan, dari laman Health, bahwa emosional seseorang bisa menular karena manusia adalah makhluk sosial yang merespon lingkungan.

Jadi saat lingkungan kita mulai dilanda kecemasan berlebih, muncul kondisi prilaku baru di mana setiap orang akan mulai mementingkan diri sendiri. Berusaha menyelamatkan diri dan menutup interaksi secara wajar dengan orang-orang. Bahayanya, karena sikap seperti ini dapat merugikan orang lain.

Ini sudah terjadi di sekitar kita. Misalnya, ketakutan yang merebak membuat orang-orang melakukan panic buying, atau berbelanja barang-barang tertentu secara berlebihan. Belum lagi kondisi ini dimanfaatkan oleh sejumlah kalangan untuk meraup keuntungan dengan menimbun dan menaikkan harga barang. Hebatnya karena perilaku ini berefek domino pada banyak orang. Itu semua akibat dari kecemasan yang berlebih.

Di sisi lain, justru ada sejumlah orang yang walau tetap diselimuti kecemasan, mereka jadi lupa dengan upaya untuk menjaga diri. Mereka tampaknya mengalihkan kecemasan dengan tetap berakitivitas secara wajar di luar rumah. Misalnya, mengantri mengambil sembako dan bantuan, atau berolahraga gembira secara beramai-ramai. Padahal penyebaran virus sangat rentan terjadi di kerumunan seperti itu.

Cerdas dalam menanggapi dampak pandemi Covid-19 itu memang perlu kita lakukan bersama. Kecemasan yang timbul itu wajar, asal tetap dalam batas yang semestinya. Mungkin kita juga perlu mengurangi arus informasi yang kita terima setiap hari, karena sumber kecemasan yang kita rasakan adalah banyaknya pemberitaan yang belum jelas beredar di sekitar kita.

Kita belum tahu, sampai kapan pandemi Covid-19 ini berakhir. Ada banyak prediksi yang kita saksikan di berbagai media tentang ujung dari penyebaran virus Corona. Namun bila ini berlangsung lebih lama dari semua prediksi itu, akankah kita terus dihantui oleh perasaan cemas yang berlebih?

April 06, 2020

Yayat Adriana bagian 1: Niat Baik Tak Selalu Diterima Baik





Komunikasi pertama kali terjadi pada tanggal 20 Agustus 2016, via aplikasi jejaring Messenger Facebook. Lalu lebih intens berhubungan sejak 16 September 2016 meski secara jarak jauh.

 


Hingga akhirnya beberapa kali bertemu dan mulai menjalani hubungan pacaran pada 8 Januari 2017. Namun hubungan yang baik-baik saja itu harus diakhiri sejenak, karena si wanita belum berkenan untuk memperkenalkan si pria ke pihak keluarganya. Si wanita juga kerap berbohong ke keluarganya bahwa dia tidak menjalani hubungan pacaran dengan pria manapun, karena dirinya dituntut untuk serius menjalani jenjang pendidikannya di bangku kuliah.

Atas dalih itulah, si pria mencoba meyakinkan si wanita agar bersikap serius dengan hubungan mereka yang sudah menginjak usia satu tahun. Sayangnya, karena kesibukan si wanita dengan tanggungjawabnya di kampus, mereka mulai jarang bertemu. Sampai keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka diambil si pria agar si wanita bisa fokus dengan kuliahnya dan berhenti berbohong ke keluarganya tentang hubungan pacaran mereka.

Si pria bahkan tidak meninggalkan si wanita dengan sia-sia, selain menitip janji, bahwa si pria akan kembali menemuinya di saat dia telah menyelesaikan pendidikan Diploma Bidannya di Akademi Kebidanan Buton Raya. Jadi resmilah mereka putus setahun kemudian (2018), di bulan yang sama saat mereka meresmikan hubungan tersebut. Tanpa ada masalah dan pertengkaran, hubungan manis itu berakhir karena alasan sepele.

Hingga suatu hari, dan cukup tiba-tiba, si pria mengirim pesan singkat ke si wanita: